Posted on: June 25, 2022 Posted by: dupostc Comments: 0
Potret Pendidikan Di Pelosok Indonesia

Potret Pendidikan Di Pelosok Indonesia – Seperti yang tertuang pada pasal 31 ayat 1 UUD 1 945 yang menyatakan tentang setiap warga negara berhak menerima pendidikan yang sama. Maka seharusnya tidak ada perbedaan mutu pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Tapi kenyataannya masih banyak generasi penerus bangsa yang belum mendapat pendidikan yang layak. Terutama daerah-daerah terpencil di Indonesia. Contoh nyata bisa kita lihat pada masyarakat yang tinggal di Kampung Bara-Baraya, Kecamatan Tompo Bulu , Kabupten Maros, Sulawesi selatan. Masyarakat Juhu yang tinggal di pegunungan Merantus, Kalimantan Selatan. Daerah pedalaman di Papua, serta daerah lain di Indonesia dengan kondisi yang tak jauh berbeda.

Lokasi desa yang jauh dari kota ditambah dengan akses jalan yang cukup sulit untuk dilalui karena belum terbangunnya insfrastukur jalan yang memadai, serta terbabatasnya layanan listrik dari pemerinah dan susahnya untuk mendapatsinyal. Membuat seolah-olah daerah-daerah yang terpencil ini terputus dari dunia luar. Dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

Hal itu membuat masyarakat di daerah terpencil sangat susah untuk mengenyam pendidikan yang layak. Sekolah-sekolah yang ada di daerah terpencil jumlahnya sangat sedikit. Bahkan ada sekolah yang didirikan bukan oleh pemerintah, melainkan oleh para sukarelawan yang tergerak hatinya melihat masyarakat di daerah tersebut masih buta huruf. Kondisi sekolah yang ada di daerah terpencil ini juga sangat berkebalikan dengan sekolah yang ada di kota-kota. Jika kita di perkotaan atau pedesaan yang sudah maju, kita bisa melihat gedung-gedung sekolah dibangung dengan campuran bata dan semen. Dan dilengkapi dengan fasilitasa untuk menujang proses belajar mengajar. Lain halnya jika dibandingkan di daerah terpencil yang ada di negeri ini. Disana gedung-gedung sekolah masih terbuat dari papan-papan kayu berlantai tanah. Ada juga bangun sekolah yang terbuat seadanya tanpa dinding, sehingga ketika hujan turun proses belajar menjadi terhenti karena mereka harus mengungsi. Bahkan ada sekolah yang berada di bawah kolong rumah warga.

Potret Pendidikan Di Pelosok Indonesia

Di perkotaan peserta didik datang ke sekolah memakai seragam lengkap dengan tas dan memakai sepatu. Serta mempunyai buku-buku pelajaran yang lengkap. Sementara di daerah-daerah terpencil, jangankan untuk datang dengan berseragam lengkap. Untuk mencapai sekolah saja mereka harus berjalan kaki berkilo-kilo meter dengan kondisi jalan yang tidak senyaman, sepeperti di perkotaan dimana pembangunan jalan sudah merata. Selain kondisi jalan yang masih belum tersentuh pembangunan. Untuk mencapai sekolah beberapa peserta didik ini juga harus menyeberangi sungai dengan kondisi jembatan yang sudah tidak layak, yang malah bisa membahayakan keselamatan mereka.

Baca juga : Pengaruh Covid-19 Pada Angka Putus Sekolah

Jumlah guru sebagai tenaga pendidik pun juga sangat minim untuk daerah-daerah yang terpencil. Hal ini disebabkan karena para tenaga pengajar lebih memilih untuk mengajar di daerah perkotaan yang sudah mudah akses transportasinya dan di dukung dengan fasilitas yang memadai. Dibandingkan harus mengajar di daerah terpencil yang susah untuk diakses. Dan tidak ada fasilitas yang mendukung untuk membantu proses pendidikan. Maka tak heran jika dibeberapa tempat kita menemukan tenaga relawan yang membatu mengajar di daerah-daerha terpencil itu. selain minimnya tenaga pengajar yang ada, kesejahteraan mereka juga kurang diperhatiankan oleh pemerintah. Masih banyak guru-guru di daerah terpencil yang tidak mendapat gaji yang layak dan hidup dengan perekonomian yang sulit. Karena itu terkadang ada guru yang tidak hadir di sekolah, karena harus kembali ke untuk memenuhi kebutuhan ekonminya.