Posted on: June 25, 2022 Posted by: dupostc Comments: 0
Pengaruh Covid-19 Pada Angka Putus Sekolah

Pengaruh Covid-19 Pada Angka Putus SekolahPandemi Covid-19 yang hingga belum berakhir masih menjadi permasalahan bagi masyarakat dunia. Termasuk juga di Indonesia. Pandemi yang masih berlangsung ini telah mengubah banyak aspek kehidupan masyarakat luas. Pandemi Covid-19 tak hanya berdampak pada aspek kesehatan saja. Namun berefek domino pada krisis multidimensi, seperti sektor perekonomian sosial, pariwisata. Termasuk juga pada dunia pendidikan di indonesia.

Dimana pendidikan adalah kunci utama penyokong kemajuan suatu bangsa. Tanpa adanya pandemi saja. Masalah di dunia pendidikan Indonesia masih banyak yang belum dibenahi. Sehingga mengakibatkan kualitas pendidikan di Indonesia sebagai negara berkembang masih belum memuaskan. Misalnya seperti masalah pemerataan pembangunan sarana dan prasrana pendidikan. Atau penghapusan buta huruf di daerah-daerah tertinggal. Yang hingga kini masih belum berakhir. Dengan adanya pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Tentunya semakin menambah permasalah pada bidang pendidikan. Misalnya meningkatnya angka putus sekolah. Seperti yang disampaikan oleh Suharti dalam webinar kesiapan pelaksanaan PTM terbatas yang diakses dari media Youtube, senin 3 januari 2022 “Sebagai contoh saja anak-anak yang putus sekolah untuk anak SD saja ini meningkat 10 kali lipat dibanding tahun 2019.

Permasalahan anak yang putus sekolah memang permasalahan yang sudah terjadi sejak dulu. Kini dengan adanya virus Covid-19, fenomena anak yang putus sekolah menjadi semakin tinggi. Sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan pemerintah dinilai menjadi salah satu faktor meningkatnya angka putus sekolah yang terjadi di Indonesia. Terutama pada peserta para didik yang berasal dari keluarga yang kurang mampu angka putus sekolah semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena untuk mengikuti sistem pembelajaran jarak jauh memerlukan fasilitas seperti smartphone atau laptop, yang belum tentu dimiliki oleh para peserta didik. Belum lagi tambahan biaya untuk listrik dan pembelian kuota internet. Dimana hal itu juga semakin menambah anggaran biaya yang harus dikeluarkan.

Pengaruh Covid-19 Pada Angka Putus Sekolah

Padahal selama masa pandemi banyak lapangan kerja yang mengurangi jumlah karyawan atau malah mengalami kebangkrutan. Hal itu menyebabkan hilangnya sumber pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu keluarga dengan ekonomi yang sudah pas-pasan menjadi semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akibatnya mereka memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan anaknya karena terbentur masalah biaya. Ditambah lagi dengan kurangnya pemahaman orang tua tentang pentingnya pendidikan. Serta beranggapan bahwa pembelajaran jarak jauh sama saja tidak bersekolah. Sehingga mereka lebih memberdayakan anaknya untuk membantu perekonomian keluarga di masa pandemi, dari pada bersekolah dan mengeluarkan biaya lebih untuk mendapat kan fasilitas guna mengikuti pembelajaran jarak jauh.

Siswa yang putus sekolah karena menikah juga ikut menambah kenaikan angka putus sekolah selama pandemi Covid-19. Rata-rata siswa yang menjalani pernikahan berada di kelas XII. Dimana mereka sebenarnya akan mengikuti ujian kelulusan sekolah dalam beberapa bulan. Karena masih juga dalam evaluasi jarak jauh, umumnya pelajar yang menikah tidak dikenali faksi sekolah. Faksi sekolah baru ketahui sesudah dilaksanakan home visit karena pelajar yang berkaitan tak pernah ikuti evaluasi jarak jauh. Sama seperti yang di ungkap oleh Komisioner Komisi Pelindungan Anak Indonesia (KPAI) Sektor Pengajaran, Retno Listyarti.”Pertama, pelajar putus sekolah karena menikah. Karena masih PJJ, sebagian besar yang telah menikah tanpa setahu faksi sekolah. Wali kelas atau guru Tuntunan Konseling (BK) baru ketahui sesudah dilaksanakan home visit karena tak pernah kembali turut PJJ,”